Harus Minta Kepada Suami


Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home/kemandirianfinan/public_html/wp-content/themes/fraction-theme/functions/thumbs.php on line 9
by February 12, 2015

Harus Minta Kepada Suami

Harus Minta Kepada Suami

Pertanyaan :

Mbak Mike yang budiman,
Pada pernikahan pertama, saya yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup, sehingga saya merasa lebih bebas membelanjakan uang yang saya miliki. Saya dan suami kedua bekerja sama sebagai makelar tanah untuk mencukupi kebutuhan kami. Suami saya tidak pelit dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, tapi saya tidak mendapatkan gaji.
Biasanya kami berbelanja bersama karena saya tidak bisa menyetir mobil sendiri, dan dia yang membayar semuanya. Jika saya ingin berbelanja dengan ibu atau saudara, suami saya selalu menanyakan apa yang ingin saya beli dan apakah saya benar-benar membutuhkannya. Selama ini saya merasa telah bekerja keras bersamanya, tapi saya harus memohon-mohon kepadanya hanya untuk mendapatkan uang beberapa ratus ribu rupiah. Pada akhirnya dia memang memberikan uang yang saya butuhkan, tapi ada saja alasan dia untuk mempersulit keinginan saya mendapatkan uang tersebut. Haruskah saya minta kepada suami untuk menggaji saya sehingga saya tidak merasa tertekan dan lebih bebas membelanjakannya?

Hermina Yuliani. Jl. Jatiegara Barat. Jatinegara. Jakarta Timur

Jawaban :

Halo Bu Hermina,

Bagi tiap orang yang sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan atas hasil kerjanya, maka wajar sekali jika sesekali ingin sedikit menyenangkan diri sendiri dengan penghasilannya tersebut. Tidak perduli apakah masih lajang atau telah menikah, keinginan untuk menikmati jerih payah dari hasil kerjanya merupakan kebutuhan yang secara terus menerus menuntut untuk dipenuhi. Namun, penghasilan kita tentu saja tidak bisa kita gunakan seluruhnya hanya untuk kesenangan pribadi, karena masih banyak kebutuhan pokok lain yang lebih prioritas yang harus dibayar terlebih dahulu misalnya transport ke kantor, telpon, listrik, belanja makanan. Selain itu jika ada orang lain yang kehidupannya bergantung pada kita, atau jika kita juga menanggung biaya hidup orang lain, maka ada bagian dari penghasilan kita yang harus disisihkan untuk orang lain. Misalnya jika kita menanggung biaya hidup keluarga seperti suami, anak-anak atau orang tua. Belum lagi jika ada pengeluaran-pengeluaran tak terduga atau pengeluaran yang sifatnya darurat, Anda harus mempunyai dana cadangan tunai untuk mengantisipasi hal ini, istilahnya sedia payung sebelum hujan.

Sayang sekali kebutuhan hidup juga tidak berhenti pada kebutuhan harian atau pada saat ini saja, tetapi ada juga kebutuhan lain di masa depan yang mau tidak mau harus kita penuhi juga. Tidak selamanya kita bisa bekerja, suatu saat kita harus pensiun juga karna tubuh kita tidak sanggup lagi bekerja. Nah..bagaimana kita akan membiayai kebutuhan hidup kita saat sudah tidak mempunyai penghasilan lagi? Apakah bisa mengandalkan orang lain, misalnya anak-anak kita, terlalu berisiko bukan? Bukan hanya itu, dalam hidup kita mempunyai keinginan-keinginan yang membutuhkan sejumlah dana dalam jumlah besar untuk mewujudkannya. Jika dana tersebut tidak tersedia sekarang, maka kita harus menyisihkan penghasilan kita untuk ditabung atau diinvestasikan sehingga pada suatu saat terkumpul dana yang cukup untuk mewujudkan tujuan keuangan tersebut, misalnya ingin memiliki rumah, ingin ganti mobil, ingin mempersiapkan dana pendidikan dan lain sebagainya. Karena itu memberikan porsi yang secukupnya kepada kebutuhan pribadi, kemudian juga bisa memenuhi kebutuhan hidup harian, juga kebutuhan hidup di masa depan serta berusaha mewujudkan tujuan-tujuan keuangan yang diinginkan, adalah inti dari pengelolaan keuangan keluarga. Dan semuanya berawal dari bagaimana kita bisa menggunakan penghasilan yang sudah kita dapat dengan bijak.

Alasan-alasan yang saya sebutkan diatas, bisa jadi merupakan hal-hal yang dipertimbangkan suami Anda dalam mengambil keputusan-keputusan keuangan keluarga. Dimana dari penghasilan Anda berdua, maka kebutuhan hidup keluarga serta pencapaian tujuan-tujuan keuangan keluarga merupakan prioritas, setelah itu barulah kebutuhan pribadi. Bisa juga suami Anda berpendapat, bahwa kebutuhan pribadi sama dengan kebutuhan keluarga, sehingga beliau menganggap kebutuhan Anda pribadi sudah seluruhnya tercukupi dengan mencukupi kebutuhan keluraga. Suami Anda tidak sepenuhnya salah, namun mungkin yang suami Anda belum tahu adalah bahwa baik dia maupun Anda sama-sama butuh untuk bisa menikmati hasil kerja Anda berdua. Dalam pengertian Anda kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan merasakan kebebasan dalam menggunakan penghasilan keluarga, dimana selama ini Anda juga memberikan kontribusi yang cukup besar. Karena itu menurut saya Anda berhak meminta suami agar mau memberikan gaji atau uang saku secara rutin tiap bulannya kepada Anda, dan Anda bebas menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan pribadi Anda.

Jika Anda kesulitan meminta gaji dari suami, maka Anda bisa menjalankan beberapa tips berikut ini  :

1. Carilah waktu luang disaat Anda berdua sedang santai, agar pembicaraan berlangsung tenang dan tidak emosional.

2. Mintalah pendapat suami terlebih dahulu, mengenai cara mengelola penghasilan yang baik, setelah itu baru kemukakan pendapat Anda. Jangan lupa saat mengemukakan pendapat Anda, dimasukkan ide bahwa menggunakan penghasilan keluarga dengan bijak agar tujuan-tujuan keuangan keluarga tercapai itu penting, namun penting juga bagi Anda berdua mengatasi kejenuhan dan keletihan bekerja dengan memberi porsi yang secukupnya bagi masing-masing pihak untuk bisa memenuhi kebutuhan dan kesenangn pribadi secara teratur.

3. Untuk meyakinkan suami, bahwa terpenuhinya kebutuhan pribadi tidak akan menghabiskan penghasilan keluarga dalam jumlah besar, maka Anda berdua sebaiknya menghitung dulu berapa penghasilan keluarga rata-rata per bulannya. Setelah dikurangi pengeluran keluarga per bulan, maka hitung berapa sisanya. Dari sisa itulah bisa diambil setengahnya untuk masing-masing pihak untuk kebutuhan pribadi, sepertiga, seperempatnya atau berapapun jumlah yang disepakati Anda dan suami. Jadi Anda berdua sama-sama mendapatkan uang saku tiap bulan.

4. Jika suami yang memegang seluruh penghasilan keluarga, maka mintalah dia untuk mentransfer sejumlah yang sudah disepakati tadi pada tanggal tertentu tiap bulannya ke rekening Anda. Untuk jatah suami, tentu saja dia tinggal mengambilnya sendiri.

5. Berilah pengertian dan buatlah kesepakatan dengan suami bahwa masing-masing Anda dan suami berhak dan butuh menggunakan uang saku atau gaji tadi dengan bebas untuk kebutuhan pribadi.

Nah..semoga berhasil dan selamat mengelola keuangan keluarga.

Silahkan disimak juga artikel Ketika Gaji Suami Lebih Kecil

 

 

Mike Rini Sutikno, CFP
PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)


Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home/kemandirianfinan/public_html/wp-content/themes/fraction-theme/functions/thumbs.php on line 9

Related Ask The Expert Articles

Similar Posts From Ask The Expert Category

Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home/kemandirianfinan/public_html/wp-content/themes/fraction-theme/functions/thumbs.php on line 9

Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home/kemandirianfinan/public_html/wp-content/themes/fraction-theme/functions/thumbs.php on line 9

Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home/kemandirianfinan/public_html/wp-content/themes/fraction-theme/functions/thumbs.php on line 9