Keterbukaan Keuangan

by February 4, 2015

Keterbukaan Keuangan

Keterbukaan Keuangan

Dulu, kita sering mendengarkan pernyataan cinta sejati dari seorang pria kepada wanita atau sebaliknya.

Misalnya:

”Aku rela hidup menderita asal selalu bersamamu!”

”Apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu…”

”Tak apa makan sepiring berdua, yang penting selalu bersama”

 

Tapi itu dulu. Sekarang, sesuai dengan perkembangan jaman, mulai terjadi banyak perubahan. Setiap orang sudah berpikir lebih rasional dan pragmatis. Sehingga, pernyataan yang muncul berubah menjadi:

”Apakah cinta bisa menghidupimu?”

”Makan tuh cinta…”

”Makanya, cinta saja tidak cukup.”

 

Hubungan pria wanita memang sudah banyak mengalami pergeseran nilai. Mau tidak mau kita harus menghadapi kenyataan bahwa dunia semakin materialistis dan setiap orang menjadi kian individualis. Jaman orang tua kita dulu, masing-masing pasangan sudah memahami secara alamiah bahwa laki-laki adalah pencari nafkah dan istri tetap di rumah mengurus anak dan keluarga. Budaya hidup sederhana sesuai dengan kemampuan adalah gambaran hidup bahagia, sehingga bagi tiap pasangan yang akan menikah, masing-masing tidak terlalu banyak mempertanyakan bagaimana kehidupan keuangan nanti.

Pandangan tersebut didukung pula oleh budaya tabu tentang keterbukaan keuangan untuk membicarakan berbagai kebiasaan penggunaan uang sebelum menikah. Uang masih saja dianggap sesuatu yang jahat dan lambang keserakahan dan membicarakannya dikhawatirkan akan menjadi pemicu gagalnya dua sejoli ke jenjang pernikahan. Setelah menikah, barulah muncul berbagai hal yang tidak diduga sebelumnya. Salah satunya adalah mengenai kebiasaan penggunaan uang yang sebelumnya tidak diketahui, sehingga menyebabkan lunturnya kemesraan akibat kurang keterbukaan keuangan antar pasangan.

”Kok berbeda dibanding sebelum menikah?”

”Ternyata pasanganku, boros sekali!”

”Tak kuduga, dia pelitnya minta ampun!”

”Gila, tukang ngutang !”

Barangkali memang tidak mungkin untuk benar-benar memahami pasangan kita sepenuhnya. Baik sebelum menikah maupun setelah menikah bertahun-tahun sesudahnya. Namun tidak juga ada keharusan bahwa sebelum sepasang kekasih mengikatkan diri dalam tali pernikahan, idealnya telah mengetahui beberapa penghasilan masing-masing, bagaimana kebiasaan dalam menggunakan penghasilan, apa saja yang dia miliki, berapa saldo di rekening tabungannya atau apakah dia punya hutang atau tidak. Karena bukan itu intinya berkeluarga.

Berkeluarga adalah penyatuan berbagai karakter pribadi yang berbeda yang terkait akibat hubungan pernikahan. Atas nama keluarga perbedaan karakter menjadi hikmah dan justru saling mengisi. Kesimpulannya berkeluarga akan selalu menomorsatukan kepentingan bersama namun tetap mengakui hak-hak pribadi. Jadi jangan berhenti menjadi diri anda sendiri hanya karena anda berkeluarga. Termasuk untuk tidak sungkan mengenai keterbukaan keuangan dan mengajukan pertanyaan keuangan apapun yang ingin anda sampaikan kepada pasangan anda. Itu hak anda. Begitupun sebaliknya pasangan anda. Ketika anda mengunakan hak itu, artinya anda sedang mencoba mengakui hak-hak pribadi anda maupun pasangan.

Menginginkan uang bukanlah kejahatan. Menyatakan tidak butuh uang atau uang tidak penting adalah tindakan gegabah. Membicarakan masalah keuangan sebelum menikah tidak menempatkan seseorang menjadi karakter yang materialistis. Tujuannya juga bukan untuk menjadi proses seleksi pemilihan calon pasangan hidup atau menjadi jaminan bahwa keluarga tersebut akan bahagia dan hidup sejahtera. Pendekatan ini lebih menggaris bawahi bahwa membicarakan masalah uang adalah hak setiap orang, dan tidak boleh sesiapapun mengintimidasi satu sama lain untuk tidak menggunakan hal tersebut demi alasan kepantasan.

 

A. Menerima Perbedaan Pendapat, Fokus Pada Tujuan Bersama

“Jika saling mencintai, kita tidak akan bertengkar karena uang.“

Berdasarkan pengalaman konsultasi lisan dengan para klien pasangan suami istri, saya bisa mengambil beberapa kesimpulan. Uang mungkin saja tak ada hubungannya dengan cinta, tetapi ternyata sangat berhubungan dengan banyaknya pertengkaran sebuah keluarga. Tidak peduli betapapun besarnya cinta kita pada suami atau istri. Jika kita tidak bisa menjembatani perbedaan pandangan tentang uang, dan memaksakan diri mengambil keputusan keuangan yang tidak bisa mengakomodasi perasaan satu sama lain, maka akan timbul masalah pada hubungan keluarga.

Cinta ternyata belum dapat mengalahkan segalanya. Faktanya, banyak pasangan yang masih saling mencintai tetap saja bercerai dengan berbagai alasan. Cintalah yang membawa kita ke jenjang pernikahan dan menciptakan kemesraan selama beberapa tahun sesudahnya. Namun kehidupan permikahan seumur hidup membutuhkan lebih dari cinta.

Mari kira renungkan sejenak dan pahami beberapa fakta berikut ini:

  • Bagaimana kita menghabiskan uang tidak ada hubungannya dengan bagaimana kita mencintai satu sama lain.
  • Pasangan suami istri memang dibesarkan dengan cara yang berbeda, sehingga cara memperlakukan uang juga berbeda.
  • Arti uang tidak selalu sama untuk setiap orang
  • Cara kita berbelanja mungkin juga berbeda satu sama lain.

Fakta-fakta inilah yang terjadi pada kebanyakan pasangan dan membuat perbedaan pandangan tentang uang.

 

B. Tahu Kapan Harus Diam = Tahu Kapan Harus Bicara.

“Jika tidak membicarakan masalah uang, segala sesuatu akan berjalan baik.“

Banyak calon pasangan mengira bahwa dengan tidak membicarakan masalah uang atau pembicaraan tentang keterbukaan keuangan pada pasangan maka mereka tidak akan mempunyai masalah keuangan. Orang bahkan lebih memilih untuk diam daripada membicarakannya hanya karena takut bertengkar. Kemungkinan mereka takut salah, atau takut disalahkan. Ada juga yang bersikap apatis dan tidak mau tahu, atau memilih mengabaikannya dan berharap masalah akan selesai dengan sendirinya.

”Something better left unsaid,” adalah sebuah ungkapan yang amat halus, dan sayapun menyetujuinya. Ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan menjelaskannya secara verbal adalah pemaksaan. Komunikasi tidak harus dilakukan dengan bicara secara lisan atau melalui tulisan terangkai dalam kalimat dan susunan kata-kata. Ketika kita mampu menangkap makna perubahan suasana dan ekspresi lawan bicara, kita sudah bicara tanpa kata-kata. Area-area komunikasi ini amat sensitif dan menuntut kepekaan kita. Intinya kita harus tahu kapan harus diam sama pentingnya dengan kita harus tahu kapan kita harus bicara.

Dan jika membicarakan masalah uang/keterbukaan keuangan adalah hal yang teramat sensitif yang membuat orang beralasan untuk tidak membicarakannya, itu tidak sepenuhnya yang dimaksud dengan ungkapan tadi. Saya khawatir, orang bukan saja tidak ingin membicarakan masalah keuangan – tepatnya menganggapnya tidak ada. Jangan-jangan kita terlalu mencemaskan hal-hal buruk yang belum tentu akan terjadi, atau lebih buruk lagi mencemaskan hal-hal buruk yang akan terjadi padahal sudah terjadi dan kita tidak sadar itu sudah terjadi.

Kita tidak bicara saat kita harus bicara, dan justru terlalu banyak bicara saat harus diam. Kita memilih menanyakan hal-hal yang ingin kita ketahui daripada menanyakan hal-hal yang butuh kita ketahui. Jadilah kita orang yang serba salah, berada pada waktu yang salah, tempat yang salah bersama pasangan yang salah. Akhirnya uangpun menjadi salah bersama orang yang salah. Ini bodoh. Kebodohan ini dimulai ketika kita dikerdilkan dengan pemikiran usang bahwa keuangan pribadi tidak penting. Sehingga tidak perlu dipertimbangkan sebagai penunjang kurikulum sekolah, bagian penting dari pola asuh pendidikan anak dalam keluarga. Pemikiran usang menganggap bahwa yang paling penting bahkan satu-satunya hal yang penting dari uang adalah bagaimana mencari uang. Menjadi orang kaya dan mencari uang lebih banyak dan lebih banyak lagi adalah jawaban dari setiap masalah keuangan. ”Semuanya bisa kalau ada uang,” begitu kita sering mendengar keluh kesah orang. Akibatnya kita gagap secara finansial, terbata-bata menjelaskan apa yang kita ingin uang kita lakukan untuk kita.

Rejeki memang datang dari Tuhan, tapi Dia tidak mengirimkannya langsung ke rekening Anda.

Jangan menjadi golongan orang yang tahunya hanya mencari uang lalu menghabiskannya. Masuklah ke dalam golongan orang yang tahu bagaimana menggunakan uang dan menghasilkan uang lebih banyak lagi. Dan hal itu dimulai dengan mengakui berbagai kecenderungan kita terhadap uang dan membiasakan diri untuk mengakui hak-hak kita serta menerima hak-hak orang lain untuk menyampaikan pendapatnya tentang uang. Jangan enggan untuk mulai berbicara tentang masalah uang apalagi saat dirundung masalah keuangan, sebab kalau tidak keluarga kita tinggal menghitung hari-hari menuju kebangkrutan.

 

C. Bicara Tentang Uang Bukan Hal Tabu

Fakta tentang keluarga yang tabu membicarakan masalah uang sebagai tragedi. Jangankan tahu bagaimana mengelolanya, membicarakannya dengan seluruh anggota keluarganya saja enggan . Mungkin ini salah satu hasil didikan sebagian besar dari kita, yang tidak pernah diajarkan secara terbuka bagaimana bersikap terhadap uang. Padahal, keluarga dan rumah menjadi salah satu tempat paling tepat, untuk memulai membahas tentang uang. Kita dibesarkan dalam keluarga semacam itu, sehingga sampai besar pun kita tetap tidak mengerti bagaimana memperlakukan uang. Akibatnya, banyak terjadi salah pengertian tentang uang yang terus menerus secara turun temurun diwariskan.

Bukankah ini sebuah tragedi?

Nah mulai sekarang, tidak ada lagi hambatan psikologi untuk membahas masalah keterbukaan keuangan dengan pasangan. Bicara tentang uang bukan hal tabu dan tidak berdosa sama sekali. Setiap pasangan dalam keluarga harus bahu membahu saling bekerja sama mengelola keuangan. Makin solid kerjasama tersebut makin baik. Ingat salah satu fungsi ekonomi keluarga, memenuhi segala kebutuhan mulai sekarang sampai di masa yang akan datang. Kebutuhan tersebut hanya bisa dipenuhi dengan uang, plus tentu saja CINTA.

Baca artikel lainnya mengenai Siapa Mengatur Keuangan?

 

Mike Rini Sutikno, CFP
PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

Related Let's talk about money Articles

Similar Posts From Let's talk about money Category