Rencana Memiliki Rumah

by March 2, 2015

Rencana Memiliki Rumah

Rencana Memiliki Rumah

Pertanyaan :

Dear Mbak Mike,

Saya dan istri baru menikah selama 6 bulan. Take Home Pay saya Rp 5,5 juta/bulan sementara istri Rp 5 juta/bulan. Setelah menikah sampai saat ini kami masih tinggal di Pondok Mertua Indah tapi sebagai menantu, saya nggak mau terlalu lama tinggal di sana. Saya berencana, kami tinggal di sana 1-2 tahun saja. Di tahun ke-3, saya dan istri berniat untuk mencari rumah sendiri, dengan asumsi, di tahun tersebut (ketiga), kami sudah dikaruniai seorang bayi. Untuk rencana pemilikan rumah, saya berencana mengambil KPR, tapi belum tahu KPR dari bank/ pihak mana.

Pertanyaan saya,
1. Karena kami berniat mengambil KPR, dilihat dari penghasilan kami berdua, realistiskah rencana kami untuk pindah rumah di tahun ketiga tersebut?
2. Bagaimanakah prosedur pengambilan KPR, dan dikaitkan dengan inflasi, berapa dana yang sebaiknya kami persiapkan untuk DP-nya?

Demikian saja. Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban :

Dear Pak Teguh,

Keinginan untuk memiliki rumah sendiri merupakan impian hampir setiap orang. Terutama sekali bagi mereka yang telah menikah dan berkeinginan untuk hidup mandiri, terpisah dari kedua orang tua, seperti Pak Teguh dan istri. Sayangnya, membeli rumah  bagi sebagian orang memang bukan sesuatu yang mudah untuk diwujudkan. Dengan kondisi harga tanah dan bangunan yang terus naik, hampir sulit rasanya untuk membeli rumah secara tunai. Untungnya, saat ini sudah banyak produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang ditawarkan oleh pihak perbankan kepada masyarakat sebagai salah satu cara untuk membeli rumah idaman.

Kalau Pak Teguh sudah memutuskan untuk membeli rumah secara kredit, hal pertama yang perlu diketahui adalah bahwa maksimal jumlah kredit yang dapat diberikan oleh bank adalah sebesar 70% dari harga rumah, sedangkan sisanya sebesar 30% yang dianggap sebagai uang muka atau DP harus dibiayai secara tunai oleh Pak Teguh sendiri.

Hal kedua yang juga tak kalah penting dan sangat berkaitan dengan sisi keuangan keluarga adalah bahwa besarnya cicilan bulanan yang ideal yaitu 1/3 dari gaji Bapak. Karena saat ini istri Bapak juga bekerja, dapat dihitung dari penghasilan bulanan gabungan yang besarnya Rp. 10,5 jt. Sehingga kurang lebih cicilan bulanan ideal untuk ukuran penghasilan keluarga Pak Teguh saat ini adalah Rp. 3,5jt. Ini adalah jumlah cicilan bulanan ideal untuk seluruh utang bulanan, termasuk didalamnya cicilan kartu kredit, cicilan kredit kendaraaan bermotor dan cicilan bulannya lainnya jika ada. Sedangkan sisanya sebanyak 2/3 dari penghasilan bulanan, dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup dan tabungan.

Untuk mengetahui seberapa realistis keinginan Bapak untuk membeli rumah di tahun ke-3, saya rasa Bapak perlu melakukan analisa terlebih dahulu terhadap pola pengeluaran belanja keluarga untuk mengetahui jumlah dana yang dapat ditabung setiap bulan selama kurang lebih 2 tahun untuk uang muka pembelian rumah tersebut.

Mengingat saat ini Bapak dan istri masih tinggal bersama mertua, saya perkirakan jumlah pengeluaran pokok bulanan Bapak dan istri tidaklah terlalu besar, apalagi saat ini belum dikaruniai anak. Dengan asumsi saat ini Bapak tidak memiliki utang apapun, dan jumlah pengeluaran biaya hidup Bapak dan istri adalah sebesar 40%-50% dari gaji, berarti ada surplus sebesar 50% yang dapat ditabung. Katakanlah dari 50% dana surplus tersebut, 20% kita alokasikan untuk dana cadangan dan sisanya sebesar 30% dialokasikan sebagai tabungan untuk uang muka pembelian rumah.

Dengan asumsi tersebut, berarti setiap bulan Bapak dapat menyisihkan dana sebesar Rp. 3,15jt, sehingga pada akhir tahun ke-2 jumlah dana tunai yang berhasil dikumpulkan untuk uang muka rumah adalah sebesar Rp. 75,6jt.

Jika dana tersebut seluruhnya digunakan untuk pembayaran uang muka sebuah rumah, maka maksimal harga rumah yang dapat Bapak beli adalah +/- Rp. 250jt.

Langkah selanjutnya adalah menentukan jangka waktu pelunasan KPR. Untuk menentukan hal ini harus dihitung terlebih dahulu kemampuan Bapak dalam membayar cicilan bulanan.

Seperti telah saya jelaskan diatas, jumlah ideal cicilan utang bulanan adalah 1/3 gaji. Dalam hal ini jika kita mengacu kepada jumlah penghasilan Bapak dan istri yang besarnya Rp. 10,5 jt, berarti jumlah ideal cicilan utang bulanan keluarga Bapak adalah Rp. 3,5jt. Dengan demikian berarti :
1. Jika Bapak tidak memiliki cicilan utang bulanan lain, maka kemampuan Bapak untuk membayar cicilan bulanan KPR adalah maksimal Rp. 3,5jt.
2. Jika saat ini Bapak telah memiliki cicilan utang bulanan lain seperti cicilan kartu kredit, cicilan kredit kendaraaan bermotor, maka kemampuan mencicil KPR setiap bulan dapat dihitung dengan mengurangkan jumlah cicilan utang bulanan yang ada saat ini dari jumlah ideal cicilan bulanan. Misal, jumlah cicilan bulanan kartu kredit dan motor saat ini adalah sebesar Rp. 1jt, maka kemampuan Bapak untuk membayar cicilan bulanan KPR hanyalah sebesar Rp. 2,5jt.
3. Jika saat ini jumlah cicilan utang bulanan lainnya telah mencapai 1/3 gaji, hati-hati, ini berarti kemampuan Bapak untuk menambah cicilan bulanan lainnya, termasuk didalamnya KPR sudah tidak ada alias Nihil.

Bila harga rumah yang dibeli Rp. 250jt dan uang muka yang dibayar adalah sebesar Rp. 75jt, berarti besarnya KPR yang diberikan oleh bank adalah Rp. 175jt. Dengan asumsi suku bunga KPR 15% per tahun, dan dengan bantuan tabel factor, diperoleh informasi sebagai berikut :
1. Untuk jangka waktu cicilan selama 7 tahun, maka cicilan bulanan yang harus dibayar +/- Rp. 3,38jt.
2. Untuk jangka waktu cicilan selama 10 tahun, maka cicilan bulanan yang harus dibayar +/- Rp. 2,83jt.
3. Untuk jangka waktu cicilan selama 15 tahun, maka cicilan bulanan yang harus dibayar +/- Rp. 2,45jt.

Saran saya pilihlah jangka waktu KPR yang paling realistis dengan kemampuan membayar Bapak, dengan mempertimbangkan kenaikan suku bunga kredit. Jangan memaksakan untuk mengambil jangka waktu yang singkat bilamana kemampuan membayar cicilan utang Bapak tidak memadai.

Nah, mengenai persyaratan administrasi saat mengajukan permohonan KPR, biasanya calon debitur perorangan akan diminta untuk menyerahkan dokumentasi sebagai berikut :
1. Salinan identitas diri (KTP, SIM atau Paspor).
2. Salinan akte nikah (bagi yang sudah menikah). Salinan ini diperlukan oleh pihak Bank untuk mengetahui bahwa harta yang dijaminkan adalah harta bersama suami istri atau bukan, sehingga baik istri maupun suami dapat dimintai persetujuannya dan turut bertanggung jawab terhadap harta yang dijaminkan ke Bank berikut sejumlah utangnya.
3. Salinan Kartu Keluarga. Data ini diperlukan pihak Bank untuk mengetahui apakah calon debitur juga mempunyai tanggungan lain selain dirinya sendiri.
4. Salinan Rekening Koran. Data ini diperlukan pihak Bank untuk melakukan analisa keuangan calon debiturnya, sehingga dapat diukur kemampuannya dalam membayar angsuran pinjaman setiap bulan.
5. Salinan slip gaji dan surat keterangan bekerja dari perusahaan. Syarat ini berlaku bagi debitur yang bekerja disuatu perusahaan. Surat keterangan bekerja diperlukan oleh Bank untuk memastikan bahwa calon debitur yang bersangkutan memang benar-benar bekerja disitu dan memiliki penghasilan setiap bulannya.
6. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak.

Demikian semoga penjelasan saya dan sedikit illustrasi diatas dapat memberikan gambaran buat Pak Teguh dalam merencanakan dan mempersiapkan rumah idaman.

Baca artikel lainnya mengenai Kredit Pemilikan Rumah  Perlukah Melakukan Evaluasi KPR Jelang Akhir Tahun?

 

Mike Rini Sutikno, CFP
PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)