Category: Let’s talk about money

  • Memperlakukan Kartu Kredit

    Memperlakukan Kartu Kredit

    Memperlakukan Kartu Kredit

    Memperlakukan Kartu Kredit

    Menjelang atau awal tahun 1990-an, kartu kredit, masih menjadi simbol status masyarakat kita mengingat persyaratan untuk memperolehnya relatif sulit sehingga hanya masyarakat “kelas tertentu” saja yang bisa memilikinya. Tapi kini, semakin banyak bank yang bersedia menerbitkannya dengan persyaratan yang relatif lebih ringan. Sebagai akibatnya, kartu yang juga sering disebut sebagai uang plastik ini semakin mendominasi isi dompet masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pekerja di perkotaan. Bahkan, bisa saja di dalam dompet seseorang terdapat lebih dari satu kartu terbitan dari bank yang berbeda.

     

    Mengapa kartu kredit menjadi demikian populer?

    Kartu kredit memberikan kemudahan dalam bertransaksi dan juga memberikan keuntungan-keuntungan, antara lain:

    – Bentuk fisik kartu kredit yang tidak lebih besar dan tidak lebih tebal daripada kartu pengenal seperti KTP dan SIM, jelas sangat mudah untuk dibawa-bawa. Bandingkan dengan tebalnya uang yang harus anda bawa di dalam dompet, terutama bila anda harus melakukan transaksi dalam jumlah besar.

    – Kartu kredit juga di pandang lebih aman. Paling tidak, apabila anda kehilangan kartu kredit tersebut, anda masih dapat “menyelamatkan”nya dengan meminta kepada pihak bank penerbit untuk mem-blokir kartu anda sehingga anda tidak harus mengalami kerugian sebagaimana bila anda kehilangan uang tunai.

    – Bertransaksi dengan menggunakan kartu kredit memberikan keleluasaan kepada anda dalam mengatur arus kas (cash flow) anda karena pembayaran terhadap pembelanjaan anda dapat dilakukan hingga +/- 14 hari kemudian.

    – Kartu kredit memberikan fasilitas kredit kepada penggunanya. Anda dapat melakukan transaksi dan kemudian “meminta” pihak bank penerbit untuk membayarkannya terlebih dahulu kepada pihak penjual sementara anda akan melunasinya kepada bank dengan cara mencicil. Dalam transaksi yang demikian tentu anda akan dikenai bunga sebagai kompensasi bagi pihak bank.

    Belum lagi berbagai diskon dan hadiah yang ditawarkan oleh masing-masing bank dalam rangka mempertahankan nasabah serta berebut menarik nasabah baru.

     

    Beberapa Sifat Negatif Kartu Kredit

    Namun, apakah benar hanya kemudahan dan keuntungan yang “diberikan” oleh kartu kredit? Sayangnya tidak, karena beberapa alasan sebagai berikut:

    – Kemudahan pembayaran kartu kredit dan berbagai fasilitasnya mendorong konsumen menjadi lebih konsumtif.

    – Kartu kredit menumbuhkan budaya berhutang.

    – Bunga kartu kredit dapat menjadi “ular” yang membelit apabila tidak bisa melunasi tagihan.

     

    Tip Terhindar dari lilitan bunga kartu kredit.

    – Pastikan tujuan memiliki kartu kredit tidak lebih dari sekedar mempermudah anda dalam bertransaksi. Sebisa mungkin, pastikan seluruh tagihan anda bayar pada waktunya agar tidak dikenai bunga dan biaya keterlambatan.

    – Pilih jenis kartu kredit yang sesuai dengan “kemampuan anda” membayar setiap bulannya. Ada pilihan kartu jenis silver, gold, ataupun platinum dengan plafon kredit yang berbeda-beda. Semakin tinggi plafon anda, semakin besar “godaan” untuk bertransaksi. Ingat, meninggalkan tagihan anda tidak terbayar seluruhnya hanya akan memperbesar hutang anda karena anda harus juga membayar bunga.

    – Pilih kartu kredit yang dikeluarkan oleh bank penerbit yang bonafid dan berpengalaman.

    Dalam banyak kasus, bank hanya mengejar taget pemegang kartu baru sehingga banyak keuntungan, seperti bebas iuran tahunan, bunga ringan, banyak hadiah, hanya diberikan pada awalnya saja, dan tanpa anda sadari akan hilang dikemudian hari.

    Anda harus memiliki pandangan bahwa pada dasarnya, kartu kredit bukanlah alat untuk mempermudah anda untuk berhutang, melainkan sebagai alat yang memudahkan dan memberikan keamanan dalam anda bertransaksi. Mudah-mudahan dengan landasan sikap dasar yang bijaksana seperti ini, anda benar-benar dapat “berkawan” dengan si uang pastik ini dan terhindar dari dampak buruk yang dapat ditimbulkannya.

    Baca artikel lainnya mengenai Penggunaan Kartu Kredit yang Tepat

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Siapa Mengatur Keuangan?

    Siapa Mengatur Keuangan?

    Siapa Mengatur Keuangan?

    Siapa Mengatur Keuangan?

    Sebuah keluarga muda merasa kebingungan ketika mengatur keuangan. Baik suami maupun istri sama-sama bekerja sehingga merasa berhak atas penghasilan masing-masing. Suami bekerja di sektor swasta, sedangkan sang istri pegawai negeri sipil. Penghasilan mereka pun tidak jauh berbeda, meski suami tetap lebih besar. Mereka kebingungan; siapa yang harus mengelola/mengatur keuangan keluarga? Bagaimana pula pola pengaturannya? Masalah ini, biasa dihadapi oleh pasangan keluarga muda.

    Saat masih pacaran tentu saja pasangan suami istri tersebut bebas menggunakan uangnya masing-masing. Namun setelah menikah, maka saatnya untuk menyatukan kedua penghasilan suami istri. Tidak peduli apakah penghasilan keduanya sama besar atau salah satunya lebih kecil. Sebagai sebuah satu kesatuan keluarga, pasangan suami isteri tidak lagi bertindak sendiri-sendiri. Apalagi jika sudah mempunyai anak, maka kepentingan keluarga yang harus didahulukan melebihi kepentingan pribadi.

    Sebuah keluarga biasanya juga mempunyai tujuan keuangan yang ingin dicapai. Beli rumah, beli mobil, menyekolahkan anak sampai S2, pensiun muda atau liburan ke luar negeri. Untuk itu diperlukan sistem pengelolaan keuangan keluarga secara terpadu antara suami dan istri. Artinya walaupun keduanya memiliki penghasilan yang berbeda sumbernya, tetapi dalam pengelolaannya sebaiknya dilakukan bersama-sama. Dari gabungan penghasilan tersebut barulah dibagi-bagi penggunaannya ke dalam pos-pos pengeluaran keluarga.

    Untuk memudahkan Anda dalam melakukan pembagian, maka lakukanlah sistem rekening, sebagai berikut:

    1. Rekening pribadi. Tiap kali menerima gaji biasanya otomatis ditransfer ke rekening atas nama pribadi. Pertahankan rekening tersebut dan gunakan untuk tujuan penggunaan pribadi.

    2. Rekening pengeluaran keluarga. Sebuah keluarga sebaiknya mempunyai rekening khusus yang bertujuan untuk membiayai pengeluaran rutin rumah tangga. Jadi tiap bulan secara rutin suami istri menyetorkan sejumlah dana dari rekening masing-masing ke dalam rekening ini. Uang dalam rekening inilah yang digunakan untuk membayar pengeluaran rutin keluarga.

    3. Rekening dana cadangan. Sebuah keluarga juga sebaiknya memiliki dana cadangan yang besarnya sekitar 3 s/d 6 kali pengeluaran bulanan. Dana cadangan ini berfungsi sebagai dana darurat untuk tujuan membiayai pengeluaran yang sifatnya mendesak, mendadak atau tidak terduga. Misalnya jika suami di-PHK. Nah, dengan adanya dana cadangan ini keluarga masih bisa membiayai pengeluaran paling tidak untuk 3 s/d 6 bulan ke depan.

    4. Rekening investasi. Bukalah rekening khusus untuk tujuan keuangan tertentu yang ingin dicapai dengan berinvestasi. Misalnya rekening khusus untuk mempersiapkan dana uang muka rumah atau mobil, rekening khusus untuk investasi dana pendidikan anak, rekening khusus untuk persiapan pensiun, atau rekening khusus untuk liburan ke luar negeri. Dengan memiliki rekening khusus investasi, maka dalam mencapai target dana yang diinginkan akan lebih fokus dan akan semakin semangat melihat pertumbuhan dananya dari waktu ke waktu.

    Nah, dengan pola pengaturan seperti ini diharapkan bisa membantu keluarga dalam mencapai berbagai tujuan keuangan. Dan sekaligus juga memberi kepuasan kepada para pengelolanya yaitu suami istri dengan tetap memberi kesempatan untuk merasakan hasil jerih payah kerja melalui rekening pribadi.

    Jadi siapa yang mengelola/mengatur keuangan? Bukan Anda, suami atau istri, melainkan Anda berdua secara bersama-sama.

    Baca artikel lainnya mengenai Keterbukaan Keuangan

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Mengukur Tingkat Pengeluaran

    Mengukur Tingkat Pengeluaran

    Mengukur Tingkat Pengeluaran

    Mengukur Tingkat Pengeluaran

    Penghasilan punya sifat mudah berkurang dan susah sekali bertambah, karena lebih banyak faktor luar yang mempengaruhi jumlah penghasilan. Sebaliknya yang terjadi dengan pengeluaran yang sulit sekali berkurang dan teramat mudah bertambah. Padahal, Anda yang mengontrol penuh pengeluaran. Sedangkan pemasukan, bukan sepenuhnya di tangan Anda. Tidak seorangpun yang berhak melarang Anda untuk mempunyai pengeluaran yang lebih besar daripada penghasilan. Atau sebaliknya. Tetapi satu-satunya pihak yang akan menderita jika pengeluaran lebih besar dari penghasilan adalah Anda dan keluarga.

    Sebuah keluarga sebaiknya berusaha agar tidak menghabiskan seluruh penghasilannya. Maksimal sebesar 90% saja yang digunakan untuk pengeluaran. Pengeluaran yang dimaksud disini sudah termasuk cicilan hutang, premi asuransi, dan belanja keperluan rumah tangga. Sehingga masih ada alokasi minimal 10% yang bisa disisihkan untuk tabungan dan investasi. Semakin kecil jumlah pengeluaran maka semakin besar kesempatan Anda untuk menabung. Apalagi jika Anda tidak mempunyai kewajiban cicilan hutang, seharusnya pengeluaran Anda makin kecil, dan lebih banyak alokasi penghasilan yang digunakan untuk ditabung.

     

    Tingkat pengeluaran keluarga yang wajar bisa dihitung dengan rumusan:

    [ot-caption title=”Rumusan Pengeluaran” url=”http://kemandirianfinansial.com/wp-content/uploads/2015/02/Jumlah-pengeluaran.jpg”]

    Contoh perhitungan:

    Misalkan jumlah pengeluaran tahun ini Rp 37 juta, kemudian jumlah penghasilan tahun ini Rp 36 juta, maka perhitungan tingkat pengeluarannya sebagai berikut:

    [ot-caption title=”Rumusan Pengeluaran” url=”http://kemandirianfinansial.com/wp-content/uploads/2015/02/Jumlah-pengeluaran-2.jpg”]

    Jika batasan tingkat pengeluarannya pengeluaran sebuah keluarga maksimal 90% dari penghasilannya, maka nilai sebesar 102,8%, artinya keluarga tersebut memiliki pengeluaran tahun ini lebih besar daripada penghasilan. Akibatnya, sudah pasti terjadi defisit, mungkin kekurangannya diambil dengan mencairkan tabungan atau harta tunai yang lain.

     

    Perhatian!

    Berusahalah agar pengeluaran Anda dari waktu ke waktu selalu lebih kecil dari penghasilan agar tidak defisit. Semakin kecil nilai tingkat pengeluaran semakin bagus. Namun pada kondisi dimana sebuah keluarga dengan penghasilan yang kecil namun jumlah tanggungannya terlalu banyak, maka menekan pengeluaran sekecil mungkin bisa menjadi tidak realistis.

    Kebutuhan pokok hidup seperti belanja sembako bisa terpangkas banyak, hal ini bisa mengorbankan kesehatan fisik keluarga. Pertimbangkanlah untuk melakukan usaha-usaha mendapatkan penghasilan tambahan agar penghasilan keluarga juga meningkat. Sebaliknya jika Anda mempunyai gaya hidup diluar kemampuan Anda maka, maka jangan heran jika tingkat pengeluaran Anda bertambah besar dan kondisi keuangan lebih sering defisit daripada surplus.

    Silahkan disimak juga artikel mengenai Mengukur Tingkat Kemampuan Membayar Cicilan Hutang

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Mengukur Tingkat Pertumbuhan Penghasilan

    Mengukur Tingkat Pertumbuhan Penghasilan

    Mengukur Tingkat Pertumbuhan Penghasilan

    Mengukur Tingkat Pertumbuhan Penghasilan

    Sejalan dengan siklus kehidupan maka pada usia aktif pengeluaran seseorang atau sebuah keluarga akan terus bertambah. Bahkan ketika memasuki masa pensiun pun pengeluaran seseorang akan berjalan terus. Intinya selama kita hidup kita harus mempunyai penghasilan, dan bukan cuma itu saja penghasilan kita juga harus naik dari tahun ke tahun jika kita tetap ingin menikmati gaya hidup seperti sebelumnya atau lebih tinggi dari sebelumnya.

    Penghasilan yang jumlahnya sama tidak akan bisa mengejar inflasi, sehingga jika penghasilan kita tidak mengalami kenaikan akibatnya Anda harus menurunkan standar hidup. Yang lebih berbahaya jika penghasilan tersebut berkurang atau bahkan terhenti karena sesuatu hal. Bisa jadi hidup Anda dan keluarga bisa lebih menderita dibandingkan sebelumnya. Penghasilan tidak harus didapatkan dari gaji, sebab jika Anda mempunyai usaha maka penghasilan usaha tersebut bisa menghidupi Anda bukan?

    Penghasilan juga bisa didapat dengan cara berinvestasi yang bisa memberikan keuntungan untuk menambah pemasukan. Jadi tinggal usaha dan kreativitas yang memungkinkan Anda mendapatkan penghasilan dari banyak sumber, dan tetap mempunyai penghasilan walaupun sudah pensiun.

     

    Perlu Alat Ukur

    Untuk menilai apakah penghasilan sesungguhnya bertumbuh atau tidak, maka dibutuhkan pengukuran tingkat pertumbuhan penghasilan. Tujuannya adalah untuk menilai apakah faktanya penghasilan kita bertumbuh atau menurun dengan terjadinya inflasi. Pertumbuhan penghasilan minimal harus sama dengan inflasi agar Anda tetap dapat mempertahankan standar hidup Anda. Tingkat pertumbuhan penghasilan bisa dihitung dengan rumusan sebagai berikut :

    graphic

    Contoh perhitungan :

    Misalnya pendapatan tahun ini Rp 100 juta, sedangkan pendapatan tahun lalu Rp 98 juta, dengan laju inflasi saat ini 10%, maka tingkat pertumbuhan sesungguhnya =

    graphic2

    Jadi pertumbuhan penghasilan dalam waktu satu tahun adalah – 0,08 atau – 8% di bawah laju inflasi. Artinya penghasilan keluarga walaupun secara nominal naik namun secara riil sesungguhnya malah turun. Jika tingkat pertumbuhan riil menunjukkan angka sama dengan 0 (nol) , artinya penghasilan keluarga tidak bertumbuh walaupun secara nominal mengalami kenaikan. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan riil penghasilan semakin baik.

    Baca juga artikel lainnya mengenai Membuat Penghasilan Selalu Cukup

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Membuat Penghasilan Selalu Cukup

    Membuat Penghasilan Selalu Cukup

    Membuat Penghasilan Selalu Cukup

    Membuat Penghasilan Selalu Cukup

    Kebanyakan keluarga mengeluhkan penghasilan mereka yang selalu tidak cukup setiap bulan. Akibatnya, hutang mulai menumpuk di mana-mana. Sedangkan sebagian keluarga lainnya – yang bahkan dengan penghasilan lebih rendah – bisa mencukupi kehidupan sehari-hari. Kenapa bisa demikian?

     

    Mari kita analisis dulu apa saja penyebabnya yang membuat penghasilan tidak pernah cukup.

    1. Kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi. Setiap tahun harga barang dan jasa-jasa mengalami kenaikan secara alamiah, yang bisa kita kenal dengan inflasi. Akibatnya dengan jumlah uang yang sama kita tidak lagi bisa mendapatkan atau membeli barang dan jasa sebanyak sebelumnya, sebab nilai uang jadi menurun . Masalahnya jika penghasilan kita tetap atau jika kenaikan penghasilan kita tidak sebesar kenaikan harga barang dan jasa, sudah pasti penghasilan kita tidak cukup. Apalagi jika sudah didera inflasi ditambah lagi kebutuhan kita terhadap barang dan jasa terus meningkat namun penghasilan kita tidak bertambah, bisa-bisa kita mengalami penurunan kesejahteraan hidup.

     

    2. Menganut gaya hidup di luar kemampuan finansial, merupakan sumber dari hampir seluruh masalah keuangan keluarga. Penyebab utama defisit biasanya dipicu sifat boros sehingga membuat kita belanja diluar anggaran. Selain itu kita juga perlu waspadai beberapa pos pengeluaran yang sering jumlahnya terlalu besar seperti tagihan telpon, busana & aksesoris, barang- barang elektronik, hadiah dan sumbangan. Percaya atau tidak, kebanyakan dari pengeluaran itu sebenarnya tidak wajib. Misalnya, ngobrol di telpon selain tidak wajib juga bisa membuat tagihan telpon membengkak. Beli baju baru tidak harus sebulan sekali, mungkin bisa 2 bulan sekali.

     

    3. Hutang dengan sistem bunga berbunga. Tagihan kartu kredit yang dibayar minimal saja akan membuat tagihan kita membengkak. Belum lagi kalau kita terlambat membayarnya, sudah pasti terkena biaya keterlambatan. Barang kreditan dengan cicilan ringan juga terkadang membuat kita terlena, tanpa disadari pengeluaran bulanan jadi besar karena terlalu banyak mengambil barang kreditan. Begitu juga dengan cicilan bulanan hutang jangka panjang seperti kredit rumah atau mobil . Dengan maksud ingin buru-buru secepatnya melunasi hutang, maka orang seringkali memaksa mengambil jangka waktu kredit yang pendek namun cicilannya besar. Padahal jika total cicilan hutang bulanan terlalu besar, akibatnya penghasilan kita mungkin tidak cukup untuk membayar kebutuhan rumah tangga lainnya.

     

    4. Pengeluaran tak terencana. Belum lagi kalau ada saudara dekat yang pinjam uang, sumbangan uang untuk perkawinan, atau membelikan hadiah untuk seseorang yang berulang tahun, walaupun sesekali namun nampaknya karena budaya kekerabatan kita dekat ditambah lagi teman-teman Anda juga banyak mau tidak mau setiap bulan tanpa direncanakan harus keluar uang untuk ini.

     

    Jurus Ampuh Agar Penghasilan Kita Cukup

    Setelah mengenal berbagai penyebab tidak cukupnya penghasilan kita, maka saatnyalah kita mencari obat penyembuhnya. Tiga jurus ampuh berikut ini bisa di praktekkan untuk mengatasi penghasilan yang tidak pernah cukup, dan lebih dari itu bisa juga membantu Anda mengembangkan dan menambah harta kekayaan Anda.

     

    Jurus Ampuh 1: Mulailah Kebiasaan Berinvestasi

    Tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk mengalahkan inflasi, karena inflasi terjadi secara alami dan di luar kemauan kita. Inflasi selain bisa membuat kita defisit, juga bisa menggerogoti harta kekayaan kita jika tidak membuatnya berkembang biak ke dalam produk investasi yang returnnya lebih tinggi dari asumsi tingkat bunga inflasi. Karena itu milikilah anggaran untuk investasi agar hasil keuntungan hasil investasi bisa menambah penghasilan kita. Mulailah dengan menghidupkan kebiasaan menabung sebesar minimal 10% dari penghasilan kita dan terus ditingkatkan jumlahnya sejalan dengan kenaikan penghasilan kita dan biasakanlah membayar tabungan kita dahulu sebelum membayar keperluan lainnya.

     

    Jurus Ampuh 2: Biasakan Untuk Membuat Anggaran Belanja Bulanan.

    Tidak peduli berapapun penghasilan kita baik besar maupun kecil, memiliki anggaran belanja bulanan sangat penting karena akan membuat pengeluaran kita lebih terkendali. Kuncinya adalah membuat anggaran pengeluaran lebih kecil dari penghasilan, dan biasakan berbelanja hanya sebesar jumlah yang sudah dianggarkan saja. Dengan mematuhi anggaran yang kita buat sendiri, kita tetap bisa berbelanja tanpa mengalami defisit. Dengan anggaran juga kita bisa memilah mana pos pengeluaran wajib dan mana yang tidak wajib. Tidak perlu menghilangkan pengeluaran tidak wajib jika tidak mau, namun karena tidak wajib kita bisa lebih leluasa untuk menguranginya. Karena itu belajarlah untuk membedakan mana pengeluran yang wajib, mana yang tidak wajib, mana keinginan dan mana kebutuhan .

     

    Jurus Ampuh 3: Batasi Cicilan Hutang Bulanan

    Kewajiban cicilan hutang bulanan seperti cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan barang kreditan, dan cicilan hutang kartu kredit, jika di total semuanya sebaiknya tidak melebihi 30 % dari penghasilan bulanan. Dengan demikian 70% sisanya dari penghasilan kita dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup lainnya dan juga investasi. Semakin kecil porsi hutang kita ( kurang dari 30%), maka akan semakin besar sisa penghasilan bulanan yang menganggur yang bisa dimasukkan ke investasi, sehingga akan semakin baik pula kondisi keuangan kita.

    Baca artikel lainnya mengenai Mengukur Tingkat Pertumbuhan Penghasilan

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Memiliki Tujuan Keuangan Keluarga

    Memiliki Tujuan Keuangan Keluarga

    Memiliki Tujuan Keuangan Keluarga

    Memiliki Tujuan Keuangan Keluarga

    Wajar sekali jika dalam hidup ini kita memiliki banyak keinginan yang membutuhkan sejumlah uang untuk mewujudkannya. Jika kita tidak bisa meraihnya saat ini karena tidak tersedia cukup uang, kita masih punya kesempatan untuk menggapainya suatu saat nanti dengan cara menabung atau investasi. Namun alih-alih menjadi semakin dekat dengan tujuan, yang sering terjadi justru sebaliknya. Ada saja yang menghalangi kita untuk berinvestasi, terutama godaan memakai dana investasi atau tabungan untuk kebutuhan lain. Biasanya tangan kita terasa sangat gatal untuk menggunakan uang yang sudah tersedia.

    Mengapa bisa gagal di tengah jalan sebelum mencapai impian?

    Penyebab utamanya adalah karena kebanyakan dari kita tidak mempunyai tujuan keuangan yang spesifik dan terukur dalam berinvestasi.

    Akibatnya akan terjadi 2 hal, yaitu:

    1. Kurangnya motivasi dalam berinvestasi.

    Contohnya kita mempunyai keinginan memiliki mobil sendiri dan berjanji akan berusaha menabung untuk mewujudkan keinginan itu. Cara kita berinvestasi pasti akan berbeda jika mengubah keinginan tadi menjadi suatu tujuan keuangan yang lebih spesifik dan terukur. Misal, menetapkan memiliki mobil merek X seharga Rp 80 juta, dan keinginan itu ingin kita wujudkan dalam 3 tahun dari sekarang.

    Dengan cara pertama, semangat mengumpulkan uang untuk membeli mobil mungkin tidak bertahan lama. Demi melihat uang yang sedikit demi sedikit terkumpul, bisa-bisa kita tergoda memakainya untuk urusan lain. Berbeda jika kita mempunyai tujuan yang jelas berapa lama lagi keinginan tersebut bisa diwujudkan dengan kemampuan berinvestasi saat ini. Semakin hari kita akan semakin bersemangat melihat betapa keinginan tersebut semakin dekat terwujud.

     

    2. Sulitnya mengetahui keberhasilan investasi.

    Misal kita menabung untuk mengumpulkan sejumlah dana untuk membeli rumah sebesar Rp 500.000,- tiap bulan. Tiga tahun kemudian terkumpul dana kurang lebih Rp 18 juta. Apakah dana tersebut sudah cukup untuk membeli rumah. Jawabannya mungkin cukup, mungkin juga tidak. Kita sendiri belum menentukan berapa harga rumah yang ingin dibeli. Jika belum menetapkan berapa harga rumah yang ingin dibeli, bagaimana kita bisa menghitung dana yang terkumpul sudah cukup atau belum. Sebaliknya dengan menentukan terlebih dahulu berapa harga rumah yang ingin dibeli dan kapan rumah itu ingin dibeli, selanjutnya akan lebih mudah untuk menentukan berapa penghasilan yang harus disisihkan setiap bulan. Jika jumlah yang disisihkan terlalu berat untuk kondisi keuangan saat ini, maka tinggal menyesuaikan target harga rumah yang ingin dibeli dan jangka waktu investasinya.

    Dengan demkian keinginan tersebut bisa diubah menjadi tujuan keuangan yang lebih realistis. Jika sudah sesuai antara kemampuan berinvesatsi dengan tujuan investasinya, maka akan semakin mudah mengukur kemajuannya dari hari ke hari. Sehingga pada saat yang telah ditentukan kita berhasil mengumpulkan sejumlah dana yang cukup untuk mewujudkan tujuan keuangan tadi. Pengukuran keberhasilan investasi ini sangat penting, sebab salah satu keberhasilan investasi adalah jika berhasil mencapai target pada waktu yang telah ditentukan.

    Kesimpulannya:

    Dalam berinvestasi sebaiknya kita menentukan terlebih dahulu tujuannya. Investasi adalah kegiatan untuk mengembangkan harta kekayaan termasuk uang, maka tujuan investasi bisa disebut juga tujuan keuangan. Tujuan keuangan adalah tujuan yang membutuhkan sejumlah uang untuk mewujudkannya.

    Tanpa tujuan, Anda tidak akan bisa bergerak kemana-mana dan hanya berputar-putar di tempat saja. Sesudah begitu banyak menghabiskan waktu, uang dan tenaga, sepertinya tidak sampai kemana-mana

    Berikut ini ada 3 tips dalam menetapkan suatu tujuan keuangan, yaitu:

    1. Spesifik.

    Suatu tujuan keuangan sebaiknya dibuat secara tertulis, terukur dan mempunyai jangka waktu. Misalnya, “saya ingin dalam waktu 12 bulan ke depan bisa menaikan jumlah setoran tabungan rutin menjadi 10% dari penghasilan per bulan.”

    2. Realistis.

    Kitalah yang tahu diri sendiri. Kita sendirilah yang tahu pola pembelanjaan, “mana yang harus dibeli“ dan mana yang “senang juga kalau bisa dibeli.“ Saya tidak akan mendorong secara membabi buta melakukan penghematan secara drastis atau memaksakan diri menabungkan sebagian besar penghasilan untuk mencapai tujuan keuangan. Seperti orang yang sedang berdiet bisa saja dilakukan dengan cepat, tapi biasanya akan cepat bosan dan untuk menghibur diri atas penurunan berat badan itu, menghadiahi diri dengan coklat dan es krim.

    3. Beritahu orang lain (terutama orang dekat).

    Kebanyakan orang sangat bersemangat saat membuat rencana, tetapi seringkali gagal dalam pelaksanaan. Resep yang satu ini cukup manjur untuk dicoba, yaitu dengan memberitahu orang lain tentang tujuan keuangan dan bagaimana rencana untuk mencapainya. Mintalah orang tersebut mengingatkan kita kapan saja dia melihat indikasi kita akan menyimpang dari rencana. Sebagai contoh orang yang ingin berhenti merokok, bisa memberitahukan orang lain yang cukup dekat dengannya mengenai rencananya. Sehingga temannya berfungsi sebagai pengingat kapanpun si perokok mulai menyimpang dari rencananya.

    Baca juga artikel lainnya mengenai Mengatur Keuangan Rumah Tangga Saat Harga BBM Naik

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Mengajarkan Anak Tentang Uang

    Mengajarkan Anak Tentang Uang

    Mengajarkan Anak Tentang Uang

    Mengajarkan Anak Tentang Uang

    ”Ayah, aku boleh minta uang seribu nggak?” tanya seorang anak.

    ”Buat apa?” tukas sang ayah.

    ”Aku mau beli es krim!” jawabnya cepat.

    Penggalan dialog semacam itu, mungkin sering dialami orang tua. Anak-anak usia TK dan SD, kerapkali meminta uang jajan kepada orang tuanya. Bahkan, ketika uang jatah jajan harian yang dimilikinya sudah habis. Biasanya, mereka tidak peduli tentang uang begitu melihat jajanan yang disukainya. Lalu bagaimana mengatasinya? Apaka permintaan itu harus ditolak atau dipenuhi?

    Salah satu cara terbaik mengajarkan anak tentang keuangan adalah dengan memberikannya teladan. Misal, kita menggunakan uang hanya untuk hal-hal yang perlu, seperti membayar semua tagihan kebutuhan rumah tangga, membayar cicilan dan lain sebagainya. Tidak ada salahnya kita memberitahu anak-anak akan semua kewajiban pembayaran tersebut. Memang, hal itu kadang sulit sekali. Di satu sisi, memberi teladan yang baik sangatlah melelahkan. Namun di sisi yang lain setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya mengerti tentang keuangan.

    Tapi justru kadang orang tua sendiri yang mencontohkan hal-hal buruk kepada anak soal keuangan. Contoh, kita sendiri sering tidak berpikir panjang ketika berbelanja. Barang-barang yang tidak dibutuhkan pun seringkali dibeli begitu saja. Setiap ada tukang yang lewat di depan rumah, dibeli. Setiap pergi ke pusat belanja selalu jajan dan lain sebagainya. Ingat, anak-anak akan memerhatikan pola pengeluaran Anda.

    Pernah seorang anak protes ketika tidak diberi uang jajan,

    ”Lho Mama kok boleh jajan siomay setiap hari?”

    ”Kemarin Papa beli tabloid? Kok aku nggak boleh?”

     

    A. Apakah Mengajari Anak Tentang Uang Membuat Mereka Serakah & Boros?

    Pertanyaan tersebut paling banyak meresahkan orang tua. Salah satu tujuan mengajari anak tentang uang adalah untuk mencegah mereka menjadi orang yang rakus dan boros terhadap uang. Anak-anak yang terbiasa mengelola uangnya sendiri akan menganggap uang adalah sarana mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri yang mendorong mereka terobsesi atau teperdaya oleh uang ketika dewasa kelak. Serakah dan boros adalah sifat yang sangat buruk karena sifat itu tak bisa dipuaskan, yang akan mengakibatkan ketidakbahagiaan dan kemelaratan.

    Membangun sistem kekebalan karakter anak terhadap sifat serakah dan boros hanya bisa dibangun dengan program imunisasi pengelolaan keuangan. Jadi orang tua sengaja memasukkan program simulasi pengelolaan keuangan ke dalam otak anak-anak. Program simulasi ini diberikan secara bertahap sesuai dengan tingkat kedewasaan anak. mengenalkan. Anak-anak balita dan usia pra sekolah dapat diajarkan tentang nilai uang melalui permainan seperti pasar-pasaran atau menabung melalui celengan. Anak-anak usia sekolah sampai remaja mungkin lebih menyukai monopoli untuk latihan mengelola uang dan berkenalan dengan investasi. Orang tua juga sudah bisa memperkenalkan mereka dengan program anggaran dan memfasilitasi mereka dengan uang saku agar mereka bisa belajar mengelola uang yang sesungguhnya dalam jumlah yang masih bisa di toleransi orang tua.

     

    B. Tanggung Jawab & Kendali

    Anak-anak perlu mengendalikan uang mereka sendiri. Analoginya begini, seseorang akan lebih telaten merawat hewan peliharaanya sendiri daripada merawat hewan peliharaan orang tua. Makanya, jika uang yang mereka belanjakan bukan benar-benar milik mereka, anak-anak tak punya alasan untuk mempertahankannya dan benar-benar mepertimbangkan bagaimana menggunakannya. Anak-anak yang seringkali merengek minta orang tuanya membelikan sesuatu menandakan dia tidak peduli dan kurang bertanggung jawab dengan uang orang tuanya. Untuk apa mereka bertanggung jawab, toh itu bukan uang mereka?

    Sebaliknya, anak-anak akan sangat berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka sendiri. Bukan berarti semua diperbolehkan. Selama masih dalam batas perilaku yang wajar, anak sebaiknya diperbolehkan untuk mengambil keputusan sendiri dan Anda mungkin bisa menawarkan saran berdasarkan pengalaman terhadap keputusannya. Anak-anak yang tidak memiliki kontrol atas uang mereka sendiri, akan selalu punya alasan untuk meminta uang kepada orang tuanya lalu menghamburkannya.

    Mengajari tentang uang kepada anak dengan membiarkan mereka memegang kendali atas uang mereka sendiri. Dengan demikian mereka akan terpaksa untuk melawan berbagai keinginan untuk menghabiskannya. Dengan cara ini, orang tua juga akan terbebas dari keharusan untuk mengontrol secara ketat dan menghakimi mereka.

    Simak juga artikel mengenai Pengelolaan Keuangan Bagi Anak

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Mengajari Anak Menabung

    Mengajari Anak Menabung

    Mengajari Anak Menabung

    Mengajari Anak Menabung

    Kebanyakan orang tua mulai mengajari anak-anak tentang uang dengan konsep menabung. Masalahnya sebagian besar anak menganggap bahwa menabung yang diajarkan orang tuanya, hanya sebagai bentuk hukuman yaitu mencegah mereka untuk membelanjakan uang, bukan untuk membiasakan diri menabung. Tanpa disadari mungkin orang tua hanya tak suka melihat anak-anak jajan permen dan mainan. ”Sebuah keborosan yang harus dihentikan,” begitu pikir orang tua. Maka harus dicari cara untuk menghentikan kebiasaan boros tersebut. Salah satu caranya dengan ’memaksa’ anak-anak untuk menabung.

     

     A. Pahami Arti Waktu Untuk Anak-Anak

    Kita juga jangan melupakan bahwa bagi anak, “jangka panjang” tidak berarti jangka panjang. Buat mereka kata itu bermakna “tidak pernah“. Jadi jika mengajak anak menabung dengan iming-iming, ”Nanti kalau uangnya sudah terkumpul bisa membiayai masa depanmu” akan sia-sia saja. Sama seperti mengajak orang dewasa untuk menabung dengan tujuan membeli rumah di planet Pluto. Sesuatu yang tidak mungkin. Kita harus faham dengan persepsi ini, agar terhindar dari penolakan anak terhadap upaya membiasakan mereka untuk menabung.

     

     B. Haruskah Anak-Anak Dituntut Untuk Menabung?

    Menabung tidak akan memiliki arti, kecuali dilakukan dengan sukarela. Jika orang tua secara otomatis menyita uang anak, entah itu hadiah berupa uang atau uang saku dan menabungkannya, maka anak tidak akan menganggap uang itu sebagai miliknya. Apalagi jika orang tua menginginkan uang hasil tabungan itu untuk membayar biaya sekolah atau keperluan lain di masa datang.

     Tapi akan lain ceritanya, kalau Anda mengajari anak menabung dengan mengiming-iminginya keuntungan jika menabung. Misalnya, jika tabungan mencapai angka tertentu, maka secara otomatis akan mendapatkan tambahan sekian rupiah (sebagai imbalan bunga jika anak menabung, hampir mirip dengan bunga bank). Kian banyak yang ditabung, semakin besar pula tambahan yang akan didapat. Dengan insentif sepert ini kemunkinan anak-anak akan lebih rajin menabung.

    Sebagian dari kita sendiri sebagai orang tua menganggap menabung agar hidup di masa datang lebih baik. Menabung bukan bentuk hukuman kan? Jika kita sedikit mengorbankan pengeluaran saat ini, kita yakin pada masa yang bisa diperkirakan, kita akan bisa membeli mobil yang lebih bagus, pindah ke rumah yang lebih besar, mengirim anak-anak kita ke perguruan tinggi favorit atau pensiun di usia 40 tahun. Hal semacam inilah yang harus ditularkan kepada anak-anak.

     Mereka juga punya banyak keinginan. Ingin membeli sepeda baru, ingin bisa berjalan-jalan ke tempat favorit dan lain sebagainya. Sampaikan bahwa semua itu bisa dicapai salah satunya dengan cara menabung.

    As simple as that!

    Baca artikel lainnya mengenai Mengenalkan Pengetahuan Finansial Kepada Anak

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Membangun Kebiasaan Belanja Sehat

    Membangun Kebiasaan Belanja Sehat

    Membangun Kebiasaan Belanja Sehat

    Membangun Kebiasaan Belanja Sehat

     

    Setiap bulan, keluarga Armin punya rutinitas yang mengasyikan, yaitu belanja bulanan. Biasanya mereka belanja di hipermarket, karena selain berbelanja juga bisa sekalian cuci mata. Tapi sesungguhnya, baik Armin maupun istri bahkan kedua anaknya, tidak hanya sekali sebulan saja ke pusat belanja. Terutama sang istri, bisa berkali-kali menengok ritel besar tersebut. Apa yang dibeli? Macam-macam, terutama yang tidak pernah ada dalam daftar belanjaan bulanan. Kadang, Armin pusing juga menyimak perilaku belanja anggota keluarganya tersebut.

    Tapi apa yang harus dilakukannya?

    Akibat dari kebiasaan belanja yang tidak teratur tersebut, sebagai kepala keluarga pusing tujuh keliling memikirkan kekurangan uang setiap akhir bulan. Ia harus berpikir keras untuk mencari tambahan pemasukan. Dia sadar, ada yang salah dengan pola hidup keluarganya, misalnya tidak pernah menabung. Jangankan untuk menabung, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja seringkali tidak cukup.

    Sesungguhnya, ada hubungan yang sangat kuat antara kebiasaan berbelanja dengan pola menabung. Saya tidak melarang Anda untuk berbelanja. Tapi, buatlah sebuah kebiasaan berbelanja yang sehat. Jangan hanya tubuh dan pikiran saja yang sehat, cara berbelanja pun harus sehat. Jika pola belanja Anda sehat, maka seberapa pun besarnya gaji keluarga, pasti bisa menabung.

    Tidak percaya?

    Simak uraiannya!

     

    Pertama, harus disadari bahwa memang tidak mudah mengubah kebiasaan belanja, dari yang lama ke yang baru yang lebih sehat. Sebagai contoh para perokok. Meski sudah tahu mengundang penyakit, meski sadar ingin berhenti, tapi sulitnya minta ampun. Banyak perokok yang gagal berhenti, karena godaan nikmatnya merokok yang lebih besar. Well… Memang sulit sekali jika seseorang harus berhenti merokok sekaligus. Tapi cobalah mengubah dengan cara perlahan, sedikit demi sedikit. Misal, jika satu hari biasa menghabiskan satu bungkus isi 12 batang, kenapa tidak dicoba untuk mengurangi satu batang rokok saja terlebih dahulu. Sehingga pada hari kedua bisa menghabiskan 11 batang, lalu hari ketiga atau keempat hanya 10 batang dan seterusnya. Bedanya tidak terasa bukan? Demikian pula dalam berbelanja. Kebiasaan buruk belanja apa saja, bisa dikurangi secara perlahan.

     

    Kedua, perhatikan tip belanja berikut ini, agar Anda menjadi lebih sehat dan cerdas.

    • Kurangi membeli barang-barang yang nilainya menurun.

    Belanjakanlah uang Anda pada barang-barang yang nilainya terus naik. Kebanyakan orang berbelanja pada barang-barang yang nilainya habis begitu digunakan seperti makanan, pakaian atau nilainya terus menurun seperti barang elektronik dan barang-barang konsumtif lainnya. Apa yang membedakan barang konsumtif atau bukan? Ukurannya biasanya adalah apakah barang tersebut Anda butuhkan atau hanya keinginan saja. Selama Anda sudah bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan maka berbelanja adalah hal yang wajar dilakukan dan bukan sekedar lapar mata saja

     

    • Little stuff means a lot.

    Seringkali kita tidak merasa keluar uang banyak untuk membeli rokok, jajan camilan atau sekedar ngopi. Wajar saja jika kita lupa karena jumlahnya kecil saja dan sudah menjadi kebiasaan belanja kita. Bahayanya adalah karena menjadi kebiasaan belanja sehari-hari maka kita lupa bahwa jumlah yang kecil tadi jika kita kalkulasi dalam sebulan atau setahun jumlahnya besar juga. Padahal, dengan jumlah sebesar itu jika diinvestasikan akan menghasilkan return yang menguntungkan.

     

    • Jaga total cicilan hutang dibawah 30% dari pendapatan.

    Sebagian keluarga membeli berbagai keperluan dengan cara mencicil. Tidak ada yang salah dengan kebiasaan belanja dengan cara ini, kecuali kalau kebablasan. Misal, jumlah cicilan setiap bulan mencapai 50% dari penghasilan, sedangkan kebutuhan sehari-hari menghabiskan 70% gaji. Kemana harus menombok sisa kebutuhannya? Bisa-bisa Anda mencari pinjaman sana-sini untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Maka ingatlah, jika berhutang jagalah agar total cicilan per bulan tidak lebih dari 30% penghasilan. Sehingga Anda masih punya sisa 70% untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

     

    • Kartu kredit bukan uang lebih.

    Kebiasaan belanja dengan kartu kredit seringkali membuat kita lebih kaya daripada yang sebenarnya. Limit kartu kredit membuat kita serasa mempunyai uang tunai lebih. Padahal limit kartu kredit yang diberikan tidak gratis. Begitu kita pakai maka kita harus mengembalikannya dan jika tidak sanggup membayar lunas maka akan dikenakan bunga, yang biasanya cukup mencekik, apalagi kalau terakumulasi secara terus menerus. Kita sudah sering mendengar, banyak orang yang terlilit masalah kartu kredit. Nah, untuk menghindari lilitan kartu kredit, ingatlah agar hanya mengunakannya untuk keperluan tertentu. Sedangkan untuk belanja sehari-hari bayarlah dengan uang tunai atau dari kartu ATM/debit. Simpanlah kartu kredit untuk keadaan darurat, sebagai sumber dana cepat kala keadaan gawat namun uang tunai tidak tersedia.

    Baca artikel lainnya mengenai Mengukur Tingkat Pengeluaran

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

  • Keterbukaan Keuangan

    Keterbukaan Keuangan

    Keterbukaan Keuangan

    Keterbukaan Keuangan

    Dulu, kita sering mendengarkan pernyataan cinta sejati dari seorang pria kepada wanita atau sebaliknya.

    Misalnya:

    ”Aku rela hidup menderita asal selalu bersamamu!”

    ”Apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu…”

    ”Tak apa makan sepiring berdua, yang penting selalu bersama”

     

    Tapi itu dulu. Sekarang, sesuai dengan perkembangan jaman, mulai terjadi banyak perubahan. Setiap orang sudah berpikir lebih rasional dan pragmatis. Sehingga, pernyataan yang muncul berubah menjadi:

    ”Apakah cinta bisa menghidupimu?”

    ”Makan tuh cinta…”

    ”Makanya, cinta saja tidak cukup.”

     

    Hubungan pria wanita memang sudah banyak mengalami pergeseran nilai. Mau tidak mau kita harus menghadapi kenyataan bahwa dunia semakin materialistis dan setiap orang menjadi kian individualis. Jaman orang tua kita dulu, masing-masing pasangan sudah memahami secara alamiah bahwa laki-laki adalah pencari nafkah dan istri tetap di rumah mengurus anak dan keluarga. Budaya hidup sederhana sesuai dengan kemampuan adalah gambaran hidup bahagia, sehingga bagi tiap pasangan yang akan menikah, masing-masing tidak terlalu banyak mempertanyakan bagaimana kehidupan keuangan nanti.

    Pandangan tersebut didukung pula oleh budaya tabu tentang keterbukaan keuangan untuk membicarakan berbagai kebiasaan penggunaan uang sebelum menikah. Uang masih saja dianggap sesuatu yang jahat dan lambang keserakahan dan membicarakannya dikhawatirkan akan menjadi pemicu gagalnya dua sejoli ke jenjang pernikahan. Setelah menikah, barulah muncul berbagai hal yang tidak diduga sebelumnya. Salah satunya adalah mengenai kebiasaan penggunaan uang yang sebelumnya tidak diketahui, sehingga menyebabkan lunturnya kemesraan akibat kurang keterbukaan keuangan antar pasangan.

    ”Kok berbeda dibanding sebelum menikah?”

    ”Ternyata pasanganku, boros sekali!”

    ”Tak kuduga, dia pelitnya minta ampun!”

    ”Gila, tukang ngutang !”

    Barangkali memang tidak mungkin untuk benar-benar memahami pasangan kita sepenuhnya. Baik sebelum menikah maupun setelah menikah bertahun-tahun sesudahnya. Namun tidak juga ada keharusan bahwa sebelum sepasang kekasih mengikatkan diri dalam tali pernikahan, idealnya telah mengetahui beberapa penghasilan masing-masing, bagaimana kebiasaan dalam menggunakan penghasilan, apa saja yang dia miliki, berapa saldo di rekening tabungannya atau apakah dia punya hutang atau tidak. Karena bukan itu intinya berkeluarga.

    Berkeluarga adalah penyatuan berbagai karakter pribadi yang berbeda yang terkait akibat hubungan pernikahan. Atas nama keluarga perbedaan karakter menjadi hikmah dan justru saling mengisi. Kesimpulannya berkeluarga akan selalu menomorsatukan kepentingan bersama namun tetap mengakui hak-hak pribadi. Jadi jangan berhenti menjadi diri anda sendiri hanya karena anda berkeluarga. Termasuk untuk tidak sungkan mengenai keterbukaan keuangan dan mengajukan pertanyaan keuangan apapun yang ingin anda sampaikan kepada pasangan anda. Itu hak anda. Begitupun sebaliknya pasangan anda. Ketika anda mengunakan hak itu, artinya anda sedang mencoba mengakui hak-hak pribadi anda maupun pasangan.

    Menginginkan uang bukanlah kejahatan. Menyatakan tidak butuh uang atau uang tidak penting adalah tindakan gegabah. Membicarakan masalah keuangan sebelum menikah tidak menempatkan seseorang menjadi karakter yang materialistis. Tujuannya juga bukan untuk menjadi proses seleksi pemilihan calon pasangan hidup atau menjadi jaminan bahwa keluarga tersebut akan bahagia dan hidup sejahtera. Pendekatan ini lebih menggaris bawahi bahwa membicarakan masalah uang adalah hak setiap orang, dan tidak boleh sesiapapun mengintimidasi satu sama lain untuk tidak menggunakan hal tersebut demi alasan kepantasan.

     

    A. Menerima Perbedaan Pendapat, Fokus Pada Tujuan Bersama

    “Jika saling mencintai, kita tidak akan bertengkar karena uang.“

    Berdasarkan pengalaman konsultasi lisan dengan para klien pasangan suami istri, saya bisa mengambil beberapa kesimpulan. Uang mungkin saja tak ada hubungannya dengan cinta, tetapi ternyata sangat berhubungan dengan banyaknya pertengkaran sebuah keluarga. Tidak peduli betapapun besarnya cinta kita pada suami atau istri. Jika kita tidak bisa menjembatani perbedaan pandangan tentang uang, dan memaksakan diri mengambil keputusan keuangan yang tidak bisa mengakomodasi perasaan satu sama lain, maka akan timbul masalah pada hubungan keluarga.

    Cinta ternyata belum dapat mengalahkan segalanya. Faktanya, banyak pasangan yang masih saling mencintai tetap saja bercerai dengan berbagai alasan. Cintalah yang membawa kita ke jenjang pernikahan dan menciptakan kemesraan selama beberapa tahun sesudahnya. Namun kehidupan permikahan seumur hidup membutuhkan lebih dari cinta.

    Mari kira renungkan sejenak dan pahami beberapa fakta berikut ini:

    • Bagaimana kita menghabiskan uang tidak ada hubungannya dengan bagaimana kita mencintai satu sama lain.
    • Pasangan suami istri memang dibesarkan dengan cara yang berbeda, sehingga cara memperlakukan uang juga berbeda.
    • Arti uang tidak selalu sama untuk setiap orang
    • Cara kita berbelanja mungkin juga berbeda satu sama lain.

    Fakta-fakta inilah yang terjadi pada kebanyakan pasangan dan membuat perbedaan pandangan tentang uang.

     

    B. Tahu Kapan Harus Diam = Tahu Kapan Harus Bicara.

    “Jika tidak membicarakan masalah uang, segala sesuatu akan berjalan baik.“

    Banyak calon pasangan mengira bahwa dengan tidak membicarakan masalah uang atau pembicaraan tentang keterbukaan keuangan pada pasangan maka mereka tidak akan mempunyai masalah keuangan. Orang bahkan lebih memilih untuk diam daripada membicarakannya hanya karena takut bertengkar. Kemungkinan mereka takut salah, atau takut disalahkan. Ada juga yang bersikap apatis dan tidak mau tahu, atau memilih mengabaikannya dan berharap masalah akan selesai dengan sendirinya.

    ”Something better left unsaid,” adalah sebuah ungkapan yang amat halus, dan sayapun menyetujuinya. Ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan menjelaskannya secara verbal adalah pemaksaan. Komunikasi tidak harus dilakukan dengan bicara secara lisan atau melalui tulisan terangkai dalam kalimat dan susunan kata-kata. Ketika kita mampu menangkap makna perubahan suasana dan ekspresi lawan bicara, kita sudah bicara tanpa kata-kata. Area-area komunikasi ini amat sensitif dan menuntut kepekaan kita. Intinya kita harus tahu kapan harus diam sama pentingnya dengan kita harus tahu kapan kita harus bicara.

    Dan jika membicarakan masalah uang/keterbukaan keuangan adalah hal yang teramat sensitif yang membuat orang beralasan untuk tidak membicarakannya, itu tidak sepenuhnya yang dimaksud dengan ungkapan tadi. Saya khawatir, orang bukan saja tidak ingin membicarakan masalah keuangan – tepatnya menganggapnya tidak ada. Jangan-jangan kita terlalu mencemaskan hal-hal buruk yang belum tentu akan terjadi, atau lebih buruk lagi mencemaskan hal-hal buruk yang akan terjadi padahal sudah terjadi dan kita tidak sadar itu sudah terjadi.

    Kita tidak bicara saat kita harus bicara, dan justru terlalu banyak bicara saat harus diam. Kita memilih menanyakan hal-hal yang ingin kita ketahui daripada menanyakan hal-hal yang butuh kita ketahui. Jadilah kita orang yang serba salah, berada pada waktu yang salah, tempat yang salah bersama pasangan yang salah. Akhirnya uangpun menjadi salah bersama orang yang salah. Ini bodoh. Kebodohan ini dimulai ketika kita dikerdilkan dengan pemikiran usang bahwa keuangan pribadi tidak penting. Sehingga tidak perlu dipertimbangkan sebagai penunjang kurikulum sekolah, bagian penting dari pola asuh pendidikan anak dalam keluarga. Pemikiran usang menganggap bahwa yang paling penting bahkan satu-satunya hal yang penting dari uang adalah bagaimana mencari uang. Menjadi orang kaya dan mencari uang lebih banyak dan lebih banyak lagi adalah jawaban dari setiap masalah keuangan. ”Semuanya bisa kalau ada uang,” begitu kita sering mendengar keluh kesah orang. Akibatnya kita gagap secara finansial, terbata-bata menjelaskan apa yang kita ingin uang kita lakukan untuk kita.

    Rejeki memang datang dari Tuhan, tapi Dia tidak mengirimkannya langsung ke rekening Anda.

    Jangan menjadi golongan orang yang tahunya hanya mencari uang lalu menghabiskannya. Masuklah ke dalam golongan orang yang tahu bagaimana menggunakan uang dan menghasilkan uang lebih banyak lagi. Dan hal itu dimulai dengan mengakui berbagai kecenderungan kita terhadap uang dan membiasakan diri untuk mengakui hak-hak kita serta menerima hak-hak orang lain untuk menyampaikan pendapatnya tentang uang. Jangan enggan untuk mulai berbicara tentang masalah uang apalagi saat dirundung masalah keuangan, sebab kalau tidak keluarga kita tinggal menghitung hari-hari menuju kebangkrutan.

     

    C. Bicara Tentang Uang Bukan Hal Tabu

    Fakta tentang keluarga yang tabu membicarakan masalah uang sebagai tragedi. Jangankan tahu bagaimana mengelolanya, membicarakannya dengan seluruh anggota keluarganya saja enggan . Mungkin ini salah satu hasil didikan sebagian besar dari kita, yang tidak pernah diajarkan secara terbuka bagaimana bersikap terhadap uang. Padahal, keluarga dan rumah menjadi salah satu tempat paling tepat, untuk memulai membahas tentang uang. Kita dibesarkan dalam keluarga semacam itu, sehingga sampai besar pun kita tetap tidak mengerti bagaimana memperlakukan uang. Akibatnya, banyak terjadi salah pengertian tentang uang yang terus menerus secara turun temurun diwariskan.

    Bukankah ini sebuah tragedi?

    Nah mulai sekarang, tidak ada lagi hambatan psikologi untuk membahas masalah keterbukaan keuangan dengan pasangan. Bicara tentang uang bukan hal tabu dan tidak berdosa sama sekali. Setiap pasangan dalam keluarga harus bahu membahu saling bekerja sama mengelola keuangan. Makin solid kerjasama tersebut makin baik. Ingat salah satu fungsi ekonomi keluarga, memenuhi segala kebutuhan mulai sekarang sampai di masa yang akan datang. Kebutuhan tersebut hanya bisa dipenuhi dengan uang, plus tentu saja CINTA.

    Baca artikel lainnya mengenai Siapa Mengatur Keuangan?

     

    Mike Rini Sutikno, CFP
    PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
    Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
    Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
    Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
    Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
    Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
    Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)