Ketika Gaji Suami Lebih Kecil

by February 12, 2015

Ketika Gaji Suami Lebih Kecil

Ketika Gaji Suami Lebih Kecil

Pertanyaan :

Ibu Mike Yth,

Saya adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus pengusaha. Suami bekerja di Depdiknas dan kami dikaruniai 3 (Tk & Balita) orang anak. Bidang usaha saya adalah menjual aksesoris dan pernak-pernik khusus remaja. Saat ini saya memiliki 5 buah toko dan kios di beberapa tempat di Jakarta dan mempekerjakan 23 pegawai. Salah satu cabang toko saya beli sendiri dan masih berjalan cicilan KPRnya Rp 14 juta/bulan (sisa 7 bulan lagi). Sisa cabang berupa kios yang saya sewa saja.

Masalah utama yang saya hadapi adalah gaji suami lebih kecil dari penghasilan saya. Sehingga kami sekeluarga belum memiliki tempat tinggal dan selama ini menyewa rumah. Walaupun saya saat ini memiliki dana menganggur di deposito Rp 90 jt, namun lebih ingin diputar ke dalam usaha. Jika membuka cabang baru – penghasilan saya juga meningkat kan bu?. Soalnya saya pikir beli rumah kan tugas suami, jadi saya merasa rugi jika memakai uang saya. Saya merasa juga banyak membantu kebutuhan keluarga selama ini dan sudah membeli dua buah mobil. Saya juga suka menggunakan kartu kredit untuk beli perhiasan emas (sekalian investasi) dan shoping terutama tas dan baju. Total hutang kartu kredit saya Rp 27 juta dan pembayaran saya cicil begitu ada pemasukan usaha. Saya merasa resah dan serba salah dengan keuangan keluarga kami. Jadi saya meminta saran bagaimana baiknya dari bu Mike?

Terima kasih.

Joanna Ratulangi,
Villa Pejaten Mas – Jakarta.

Jawaban :

Ibu Joanna yang baik,

Keresahan, kegelisahan dan berbagai kekhawatiran mengenai uang, hampir selalu disebabkan ketidak jelasan dan ketidak pastian mengenai kemana harus mengarahkan uang, bahkan untuk sesuatu yang baik sekalipun. Maksudnya begini, meningkatkan kesejahteraan keluarga sudah merupakan arah tujuan yang baik. Namun artinya sangat luas dan sifatnya subyektif bahkan bisa berubah-rubah tergantung pribadi dan keluarga yang bersangkutan. Bahayanya, jika kita tidak memberlakukan ukuran-ukuran kesejahteraan yang spesifik, kita akan kesulitan menilai seberapa baiknyakah kondisi keuangan keluarga kita.

Jelas sekali bahwa anda adalah seorang pengusaha yang berhasil. Buktinya usaha menjual pernak-pernik aksesoris remaja sudah berkembang menjadi 5 cabang di kota Jakarta. Keberhasilan mengelola usaha sangat bisa diadaptasikan ke dalam keuangan keluarga. Jika anda bisa bekerja sama dengan karyawan, supplier, pelanggan, bank dan semua pihak yang berkaitan dengan usaha anda, maka demikianlah anda juga bisa bekerja sama dengan anggota keluarga. Dalam hal keuangan, perlu selalu kita ingat bahwa keberhasilan mendapatkan penghasilan yang tinggi, tidak pernah menjadi hasil dari usaha pribadi seorang diri. Ada banyak keterlibatan orang lain didalamnya. Karena itu selalu ada hak pasangan dan anak-anak dalam penghasilan kita. Keputusan anda untuk menyerahkan tanggung jawab pembelian rumah kepada suami dapat dibenarkan. Yang membuat anda terganggu adalah bahwa sampai saat ini keluarga anda belum memiliki rumah. Dilain pihak memiliki rumah sendiri penting bagi anda demi alasan keluarga. Disini ada ketidak sesuaian antara keinginan dan harapan anda. Barangkali anda pernah mengalami ketika kecil harus menabung untuk membeli mainan yang anda idamkan padahal anda berharap orang tua anda membelikannya? Bagaimana perasaan anda ketika itu? Kecewa atau mungkin sedikit kecewa, tetapi kekecewaan tersebut tidak mengurangi kecintaan orang tua bahkan semakin bertambah melihat prestasi anda. Kenyataannya, anda berprestasi atau tidak bahkan melakukan kesalahan paling buruk sekalipun – orang tua selalu mencintai anda. Lagipula anda menjadi lebih sayang pada mainan yang anda beli sendiri dibandingkan yang dibelikan orang lain. Nah, bagaimana dengan rumah tinggal? Keputusan apapun yang anda ambil, baik anda membantu suami membeli rumah atau tidak membantunya – tidak akan mengurangi rasa cinta suami dan anak-anak kepada anda.

Intinya kedudukan anda penting tetapi bukan yang utama, peranan pihak lain juga penting tetapi juga bukan yang utama. Yang paling utama adalah semua pihak terkait bekerja sama mencapai tujuan-tujuan bersama yang sejalan dengan aspirasi masing-masing. Jadi kesuksesan keuangan keluarga sangat ditentukan oleh dua hal, yaitu : (a) Pencapaian tujuan-tujuan keuangan keluarga; (b) kerjasama antar anggota keluarga (moril & materiil)

Bu Joanna, saran saya agar anda mulai merekonstruksi atau menata kembali pengelolaan keuangan keluarga anda. Dari uraian diatas kiranya ibu dapat memahami pentingnya memposisikan uang keluarga dalam uang ibu dan bagaimana mengarahkannya ke suatu tujuan bersama. Berikut ini adalah beberapa panduan dalam mengalokasikan penghasilan dan dana yang ada saat ini yang disesuaikan dengan siklus hidup finansial anda saat ini ( menikah dengan  3 orang anak) dan apa yang akan anda hadapi di masa depan nanti. Ada 3 tahapan perencanaan keuangan yang bisa anda jalankan baik secara berurutan maupun secara paralel, yaitu :

I. Membangun pondasi kekayaan : (a) Mulailah mengalokasikan sejumlah 6 (enam) kali pengeluaran keluarga per bulan untuk Emergency Fund atau Dana Darurat. Tempatkan ke sebuah produk investasi yang tidak akan membuat anda kehilangan nilai pokoknya dan dapat di akses (likuid) dengan mudah. Contohnya : tabungan atau deposito. Gunanya dana darurat adalah untuk mengcover pengeluaran tak terduga dalam jumlah besar; (b) Melengkapi kebutuhan dasar hidup, guna kelancaran aktifitas sehari-hari terdiri dari :  biaya hidup, tempat tinggal dan kendaraan. Dengan demikian memiliki tempat tinggal sendiri adalah pondasi dasar keluarga sejahtera. Disinilah anda dapat memposisikan uang anda sebagai uang keluarga dan mulai mengalokasikannya untuk membeli rumah. Anda mungkin tidak perlu membeli tunai, namun bisa mengambil kredit rumah. Barangkali suami anda mendapatkan fasilitas kredit rumah dari kantor, dengan syarat ringan dan bunga murah – ini patut ditanyakan; (c) Memberlakukan asuransi untuk mengcover risiko-risiko keuangan keluarga akibat terjadi kematian dari pencari nafkah, menurunnya kesehatan anggota keluarga karena penyakit atau kecelakaan, dan kerugian terhadap harta benda. Sebagai pencari nafkah keluarga,  anda dan suami sudah seharusnya memiliki asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Jika kantor suami sudah memberikan fasilitas ini, evaluasi kembali. Jika kurang sebaiknya ditambah coveragenya; (d) Mengendalikan gaya hidup – terutama kebiasaan penggunaan kartu kredit  untuk berbelanja bahkan untuk membeli emas sekalipun. Alangkah baiknya jika belanja yang bisa anda bayar tunai tidak perlu diganti dengan hutang, sebab bunganya sangat tinggi. Adapun saat ini anda memiliki saldo hutang kartu kredit sebesar Rp 27 juta. Saran saya adalah melunasi semua hutang kartu kredit anda dari dana deposito. Selanjutnya bayarlah belanjaan anda tunai sesuai dengan anggarannya.

II. Mengakumulasi kekayaan : (a) Investasi untuk tujuan khusus yaitu : (1) Mempersiapkan dana pensiun – mulai mengalokasikan sejumlah tertentu untuk kebutuhan hari tua; (2) mempersiapkan dana pendidikan anak – mulai mengalokasikan sejumlah tertentu untuk persiapan dana pendidikan anak : (b) Investasi untuk tujuan optimalisasi harta yaitu : (1) Mendapatkan penghasilan pasif dari investasi tujuannya agar keluarga memiliki alternatif penghasilan selain dari penghasilan aktif (bekerja); (2) Mendorong pertumbuhan harta, tujuannya agar dalam jangka panjang nilai harta kekayaan tidak tergerus inflasi bahkan terus berlipat ganda; (3) efisiensi biaya pajak – melaksanakan penghematan biaya pajak penghasilan dan hasil investasi.

III. Distribusi kekayaan : Khusus untuk tahapan ke III – lebih difokuskan ketika anda memasuki usia pensiun, antara lain : (a) Menjaga keberadaan harta kekayaan yang sudah didapat. Disini berarti terjadi pergeseran alokasi asset dalam portfolio investasi. Yang sebelumnya cenderung agresif dengan tujuan pertumbuhan kini lebih konservatif yang lebih mengedepankan sisi keamanan; ( b) Mempertahankan daya beli dengan cara meningkatkan porsi  investasi yang bisa memberikan penghasilan rutin (penghasilan pasif), namun juga harus ditunjang dengan penyesuaian gaya hidup dan pengendalian pengeluaran; (c) Transfer kekayaan – mulai membuat rencana bagaimana harta anda ingin dibagikan setelah anda meninggal. Perencanaan warisan ini sangat penting dalam tahap ini sehingga harta bisa dibagikan sesuai dengan harapan anda dan menghindari perselisihan antar ahli waris.

Ke tiga tahapan kekayaan diatas adalah urutan tingkat kesejahteraan keluarga. Mulailah mengevaluasi kondisi keuangan keluarga anda saat ini dan lihat apakah sudah sejalan dengan ke tiga tahapan tersebut. Jika belum, tentu saja anda harus segera mengalokasikan dana untuk menunjang keberadaannya. Jika anda menemui kesulitan dalam menentukan porsi besar kecilnya dana yang dibutuhkan untuk masing-masing tahapan, jangan segan untuk meminta bantuan ahlinya. Yang penting setiap keputusan keuangan sebaiknya berkonsultasi terlebih dulu dengan suami, sehingga anda berdua bisa saling mendukung dalam pelaksanaanya.

Simak juga artikel lainnya tentang Siapa Mengatur Keuangan?

 

Mike Rini Sutikno, CFP
PT. Mitra Rencana Edukasi – Perencana Keuangan / Financial Planner
Website. www.mre.co.id, Portal. www. kemandirianfinansial.com
Fanspage. MreFinancialBusiness Advisory, Twitter. @mreindonesia
Google+. Kemandirian Finansial, Email. info@mre.co.id,
Youtube. Kemandirian Finansial, Mitra Rencana Edukasi
Workshop The Enterprise You – Cara Pintar Ngatur Duit, Berbisnis dan Berinvestasi
Workshop : Smart Money Game (Papan Permainan Edukasi Perencana Keuangan)

Related Ask The Expert Articles

Similar Posts From Ask The Expert Category